Menerapkan Metode CTL untuk Kesetaraan

Kali ini PKBM Edukasi online mau berbagi seputar penerapan metoda mengajar sistem CTL (Contextual Teaching and Learning) untuk diterapkan pada program kesetaraan. Bagaimana menerapkan metode ini di sekolah kesetaraan dan mengapa memilih metode ini.

Pada dasarnya setiap metode pengajaran itu bagus yang terpenting adalah tercapainya kompetensi siswa / warga belajar guna mengejar mata pelajaran. Sebab mengajar bukanlah menyelesaikan isi buku  pelajaran, tetapi menyelesaikan kompetensi masing-masing warga belajar, sumber belajarnya bisa diperkaya, apakah dari buku, kehidupan sehari-hari, bahkan dari diri si anak itu sendiri.

Dengan program CTL sebagai metoda, si anak didik diberdayakan untuk terlibat secara langsung dalam mengemas gaya, tujuan dan masalah yang harus dipecahkan dalam pencapaian komptensi belajarnya. Dengan demikian, maka metode CTL, lebih menitik beratkan kepada bagaimana anak didik mampu menguasai problem yang dia buat sendiri dan bagaimana menyelesaikannya. Yang menarik dari metode CTL adalah siswa mampu mengkoneksikan antara teori dan persoalan dalam pelajaran dikaitkan dengan kehidupan sehari-harinya.

Kenapa di Sekolah Kesetaraan?


Metode CTL sangat cocok di sekolah kesetaraan atau program Paket, baik paket A setara SD, paket B setara SMP dan paket C setara SMA.  Warga belajar  yang  ditantang menggunakan metode CTL, saya kira akan menyebabkan  daya tarik, dan  cinta belajar akan tumbuh. Berbeda misalnya, bila metoda belajarnya itu hanya disampaikan lewat ceramah dari tutor belaka.

Dari definisi kita bisa melihat bahwa kedekatan murid dengan apa yang dipelajari, bagi sekolah non formal ada kesan kalau warga belajar itu ada jarak dengan subyek pelajaran. Sebab salah satu alasanya karena motivasi yang membedakan antara siswa sekolah formal dengan non formal biasanya pada persoalan formalitas ijazah saja, dan pendalaman materi ajar kurang fokus.

Persoalan di atas tidak serta merta kesalahan warga belajar bisa jadi karena metode mengajar di sekolah kesetaraan kurang cocok dengan budaya warga belajar yang umumnya usia  sudah melewati masa belajar, namun belum tuntas sekolah. Karenanya pengaruh budaya luar yang non learning lebih mendominasi.

Nah, untuk mengembalikan budaya +belajar maka metode CTL ini cocok dikenalkan dan diberdayakan serta diekplorasi lebih mendalam lagi lewat para tutornya.

Lebih jauh, dari definisi yang lebih pas mengatakan bahwa CTL atau contextual teaching and learning (belajar dan mengajar secara kontekstual) ini tidak lain berupa metode pembelajaran yang melakukan koneksi keterlibatan para murid dengan materi pelajaran agar dapat dikuasainya.  Dari situ, terlihat bahwa CTL diharapkan mapu memerikan nuansa menarik bagi warga belajar yang pastinya, banyak merekam berbagai kejadian sosial lainya untuk kemudian mampu memecahkannya.

lanjutan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s