Teori Holland Kepribadian Dasar untuk Wirausaha

Tidak setiap orang cocok untuk satu bidang garapan dalam berwirausaha, tetapi ada banyak yang menjadi kecenderungan  dalam kehidupannya. Seperti belajar, ada anak didik yang suka dengan cara belajar model mendengar dan lainnya. Demikian pula daam berusaha, karenanya, ada sebuah teori psikologi yang disampaikan oleh Ibu Lydia, Dijen PAUDNI yang kebetulan seorang psikolog.

Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, Direktur Jenderal PAUDNI memberikan pembekalan kepada peserta orientasi Teknis Pendidikan Kewirausahaan tentang teori Holland yang memberikan asumsi dasar bahwa manusia dikategorikan dalam 6 jenis kepribadian. Keenam jenis kepribadian tersebut yaitu; 1) Realistic, 2) Investigative, 3) Artistic, 4) Social, 5) Enterprizing, dan 6) Conventional.

Dari 6 asumsi dasar tersebut, individu akan mencari lingkungan kerja yang cocok dengan kepribadiannya, individu akan berinteraksi sesuai dengan jenis kepribadiannya terhadap lingkungannya, dan individu akan lebih senang berada pada lingkungan yang sesuai dengan tipe kepribadiannya.

Penerapan untuk Pelatihan  

Teori kepribadian atau juga disebut teori karir Holland telah direvisi pada tahun 1973, tipe-tipe kepribadian dan lingkungan okupasional tersebut adalah Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Pengusaha, dan Konvensional (Manrihu, 1992 : 71).

Holland mengakui bahwa pandangannya berakar dalam psikologi diferensial, terutama penelitian dan pengukuran terhadap minat, dan dalam tradisi psikologi kepribadian yang mempelajari tipe-tipe kepribadian (Winkel & Hastuti, 2005 : 634).

Dua sumber pengaruh ini mendorong Holland untuk mengasumsikan bahwa orang yang memiliki minat yang berbeda-beda dan bekerja dalam lingkungan yang berlain-lainan, sebenarnya adalah orang yang berkepribadian lain-lain dan mempunyai sejarah hidup yang berbeda-beda pula (Winkel & Hastuti, 2005 : 634).

Untuk penanaman wirausaha di lingkunga pelathan seperti PKBM,  yang  sekali warga belajar yang memiliki bakat dan kecenderungan yang berbeda-beda, maka analisan teori ini cukup menarik.

Manrihu (1992 : 70) berpendapat bahwa ada empat asumsi yang merupakan jantung teori Holland, yaitu :

  1. Kebanyakan orang dapat dikategorikan sebagai salah satu dari enam tipe : Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Giat (suka beru-saha), dan Konvensional.
  2. Ada enam jenis lingkungan : Realistik, Investigatif, Artistik, Sosial, Giat (suka berusaha), dan Konvensional.
  3. Orang menyelidiki lingkungan-lingkungan yang akan membiar-kan atau memungkinkannya melatih keterampilanketerampilan dan kemampuan-kemampuannya, mengekspresikan sikap-sikap dan nilai-nilainya, dan menerima masalah-masalah serta peranan–peranan yang sesuai.
  4. Perilaku seseorang ditentukan oleh interaksi antara kepribadian-nya dan ciri-ciri lingkungannya.

Holland berpegang pada keyakinan, bahwa suatu minat yang menyangkut pekerjaan dan okupasi adalah hasil perpaduan dari sejarah hidup seseorang dan keseluruhan kepribadiannya, sehingga minat tertentu akhirnya menjadi suatu ciri kepribadian yang berupa ekspresi diri dalam bidang pekerjaan, bidang studi akademik, hobi inti, berbagai
kegiatan rekreatif dan banyak kesukaan yang lain (Winkel & Hastuti, 2005 : 636-637).

Selanjutnya, bila kita melihat pada halaman tiga  buku  Making Vocational Choices : “A Theory of Vocational Personalities and Work Environments” , Holland menuliskan :

“In short, what we have called vocational interests are an important aspect of personality”

Karena itu alat tes yang dikenal dengan nama interest inventory dipandang sebagai tes kepribadian (Winkel & Hastuti, 2005 : 637).

Salah satu indikasi dari minat ialah kesukaan seseorang untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu, sedangkan ketidaksukaan menjadi kontraindikasi. Holland sendiri mengembangkan beberapa tes yang dapat membantu orang untuk mengenal diri sendiri, seperti : The Vocational Preference Inventory di tahun 1977 dan Self-directed Search di tahun 1979 (Winkel & Hastuti, 2005 : 637).

Enam prinsip Holland yang disampaikan Ibu Dirjen PAUDNI di atas adalah teori Kepribadian. Penulis sendiri tidak ikut dalam seminar tersebut, namun sangat menarik bila teori kepribadian ini sebagai acuan dasar dalam mengemas pelatihan kepada para warga belajar.

Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s