Lima Pilar Pendidikan

Prof. DR. Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia mengungkapkan pernyataan Menteri Pendidikan Nasional dalam tayangan video di bawah ini mengungkapkan bahwa untuk mendapatkan standar pendidikan nasional, diperlukan sedikitnya lima pilar pendidikan nasional: Ketersediaan sarana pendidikan, kemampuan murid/orang tua untuk mendapatkan akses terhadap sarana pendidikan tersebut, mutu pelayanan sarana pendidikan, kesetaraan dalam pendidikan dan keterjaminan 4 pilar sebelumnya dapat berjalan dengan baik.  Tapi sudahkah lima pilar tersebut terpenuhi..?


Menurut  menteri baru, M. Nuh, seperti dipaparkan oleh Prof. Dr. Fasli Jalal, dalam video berdurasi 3.15 menit mengungkapkan lima pilar pendidikan Indonesia dalam tingkat makro. Demikian kurang lebih kutipannya.

Kalau kita lihat kebijakan makro dalam pendidikan seperti kata menteri yang baru prof  M. Nuh:  menerjemahkan 5 pilar pembangunan pendidikan.

  1. Bagaimana agar ada ketersediaan pelayanan pendidikan. Asal ada anak Indonesia yang mau bersekolah, jangan sampai kapasitas yg ada tidak cukup mengakomodir mereka. Jadi jalur pendidikan itu harus ada.
  2. Itu saja tidak cukup, maka sesudah mengamati ketersediaan, harus ada kemampuan murid atau orang tua untuk  mendapat akses terhadap yang sudah tersedia tadi. Affordability, keterjangkauan pada kapasitas yang tersedia.
  3. Itu pun belum cukup, maka bermutunya pelayanan tadi, yg terjangkau dan tersedia,  harus bermutu karena kalau tidak mutu, mengurangi mapannya anak didik kita.
  4. Harus ada kesetaraan:  antara kesetaraan desa dan kota,  yang memerlukan perhatian khsusus dan yang normal, kesetaraan  jender, kesetaraan dalam sosial-ekonomi.
  5. Bagiamana menjamin atau keterjaminan bahwa 4 hal di atas itu terlaksana dalam operasional.

Itu adalah di tingkat makro. Kalau kita bagaimana dengan menghadapi anak usia dini, ada 28 juta jumlahnya. Nah ini, bagiamana anak usia dini,  masuk dalam program wajar 9 tahun. Ada 29 juta anak SD dan  12 juta SMP. Baru pendidkan menengah (dengan dua streaming yaitu pendidikan vokasi, menyiapkan anak2 kita agar bisa bekerja dengan modal yg baik, dan sebagian lagi masuk  ke pendidikan yg baik ke perguruan tinggi.

Nah baru di tingkat perguruan tinggi, ada politeknik (vokasi_ akademik, fokasi dan teknik, profesi dan pada akhirnyha bagaimana membuka peluang agar anak2 bangsa kita bisa mendapatkan pendidikan pasca sarjana yg memadai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s