Latest Post

Aturan paket C sejak 2007, hingga kini Masih Bingung

JpegAturan mengenai pembelajaran program kesetaraan SMA (Paket C) sudah dibuat tahun 2007, namun hingga kini, masih banyak yang bingung menerapkannya.

Para penyelenggara program kesetaraan SMA khususnya tutor masih banyak yang belum memahami bagaimana mengelola pembelajaran yang sesungguhnya hingga akhir tahun 2014 ini.

Hal itu dikemukakan oleh nara sumber bapak Fauzi Kromosudiro, dari tim Paket C Direktorat Pembinaan SMA di PKBM Negeri 26 Bintaro dalam acara Inhouse training (IHT) tadi siang hingga dua hari ke depan. (Kamis, 18/12).

IHT yang akan berlangsung hingga 20 Desember ini merupakan program Direktorat Pembinaan SMA (DItPSMA) untuk Paket C penerima bansos yg berjumlah 50 lembaga seluruh Indonesia. PKBM Negeri 26 merupakan satu dari 4 PKBM pilihan direktorat untuk membelajarkan program paket C model.

Acara ini dibuka oleh Kasi PNFI Jakarta Selatan, ibu Tikrawati didampingi oleh penilik kec. Pesanggrahan, Bapak Yusuf Musa, rencananya acara ini diprogramkan untuk 50 pendidik Kesetaraan Paket C.

Dalam sesi materi, menurut pria yang mirip alm Munir ini, banyak penyelenggara Paket C yang tidak mengerti aturan main mengemas pembelajaran di Program paket C ini. Misalnya bagaimana seorang penyelenggara membagi jadwal pelajaran, ada yang asal jadi, ada yang dapat dipertanggungjawabkan karena hasil pemetaan SKK (satuan kredit kompetensi), di mana sumber SKK sendiri dikutip dari struktur kurikulum Paket C pada Permendiknas no. 14/2007.

Dalam acara IHT inilah, sesi pemetaan SKK merupakan sesi penting yang masing-masing tutor dapat memahami di mana harus pembelajaran tutorial, kapan harus mandiri dan bagaimana menata tatap muka. Selain itu, bagaimana para tutor diberi informasi bagaiaman mendistribusikan jumlah SKK untuk 6 semester (3 tahun) sebagaimana yang dijelaskan dalam struktur Kurikulum Kesetaraan SMA (Paket C).

Dari pemetaan SKK inilah sebenarnya bagaimana peluang dan juga kesempatan lembaga untuk membuat pembelajaran itu disesuaikan dengan kondisi dan siatusi lembaga.

Penyelenggara Paket C, tidak serta merta harus 5 hari belajar, atau bahkan 6 hari. Begitu juga mata pelajaran yang berjumlah 17 mapel tidak tidak harus dibelajarkan semuanya.

“Bagaimana nanti bayar tutornya apa kuat lembaga membayar seluruh jampel seperti sekolah formal dengan segenap tutornya”, katanya.

Dari segi efektifitas, program Paket C sangat fleksibel dalam pengaturan belajar, karena minimal 20% tatap muka dan minimal 30% tutorial dan selebihnya 50% dikemas dalam bentuk pembelajaran mandiri. Pengaturan lebih lanjut bisa fleksibel, namun ramb-rambu di atas akan melahirkan jam pelajaran per minggu minimal 16 jam pelajaran. Bandingkan dengan formal di mana mereka sudah ditetapkan dalam struktur kurikulumnya, misalnya harus 39 jpl/minggu.

Selain pengeturan jadwal, dan pemetaan SKK, para tutor diberikan penyegaran bagaimana dan apa kegiatan tatap muka, tutorial dan mandiri.

Menurutnya, pembelajaran tatap muka gambaran mudahnya adalah belajar seperti di sekolah formal, sementara model tutorial adalah belajar seperti di bimbingan belajar yang dibahas masalah-masalah yang sulit dan butuh pembecahan antara tutor dan peserta didik. Adapun pembelajaran mandiri, merupakan belajar yang diatur sendiri oleh peserta didik guna memahami standar kompetisinya. Karenanya untuk pembelajaran tutorial ini, membutuhkan dokumen kontrak belajar.

“Kontrak belajar dibuat per semester, diawali dengan mencantumkan SK/KD yang harus dikuasai, kemudian ditandatangani oleh peserta didik yang kemudian pada evaluasi semester, mereka harus ikut semester pada mapel yang dimandirikan”, ujarnya.

Karenanya, menurut nara sumber yang telah mengisi IHT di 4 lembaga penerima bansos DKI ini menuturkan bahwa pembelajaran di Program Paket C hendaknya mengacu pada permendiknas no. 14/2007 dan standar proses no. 3/2008.

Tentang kurikulum 2013 sama sekali program Paket C belum bisa menyelenggarakan karena selain belum ada payung hukumnya, penyelenggara belum ada yang mencoba melakukan penerapan kurikulum 2013 pada Paket C, sehingga dengan demikian program Paket C tetap mengacu pada kurikulum 2007 dan sekolah formal yang belum menjalankan 3 semester kembali ke kurikulum 2006.

M. Kurtubi, Ketua PKBM Edukasi Jakarta